Profil

Kopi Mitra Malabar

Tentang Kami

Sebuah badan usaha koperasi yang bergerak di bidang agribisnis beranggotakan orang-orang yang peduli dengan ekonomi kerakyatan dan pengembangan pertanian-perkebunan Indonesia, terdiri dari berbagai lintas profesi.

Koperasi Mitra Malabar (KMM) Jawa Barat berangkat dari kepedulian pada petani dan masyarakat desa. Melalui pendirian Koperasi diharapkan mampu menumbuh-kembangkan perekonomian di desa dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Fokus pada peningkatan nilai tambah produk-produk hasil pertanian & perkebunan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota bersama dengan masyarakat secara umum

Melalui koperasi inilah berwirausaha akan dikembangkan sesuai perubahan lingkungan bisnis, tanpa meninggalkan semangat gotong royong dan semangat berjamaah.

Visi & Misi

Menjadi jaringan koperasi produksi terbesar di Jawa Barat pada tahun 2025, mampu mengintegrasikan para pihak yang peduli dengan ekonomi kerakyatan dan komoditi unggulan Indonesia, serta bermitra dengan falsafah berbagi yang berkeadilan dan ramah lingkungan.

  • Meningkatkan kesejahteraan bersama dengan petani, pengolah & pemasar.
  • Mengangkat komoditi lokal yang berkualitas, memiliki nilai tambah dan bermanfaat
  • Mengintegrasikan kegiatan hulu, pengolahan dan kegiatan hilir.
  • Memberikan produk yang bermanfaat dan berkualitas pada konsumen
  • Menumbuhkan semangat dan jiwa berkoperasi bagi generasi muda.
  • Membangun agroforestry dan agroindustry terpadu di DAS Hulu, Tengah dan Hilir.

Struktur Organisasi

Dewan Pakar

Drs. Dodi Syaripudin, S.AK, MBA.

Dewan Pakar

DR. Sulistyo Rabono

Dewan Pakar

Prof. Wisnu Gardjito, M.Sc

Dewan Pakar

Ir. Elly Amalia, MP

Pengurus

Ketua: Ir. Jayagama ME

Pengurus

Sekretaris: Dhanny R. N, S.Hut

Pengurus

Bendahara: Evi Sri Mulyati

Pengawas

Dr.Deni Heriyadi Ir. MS (Ketua)

Pengawas

Drs. Daeng M Ma’mur Thahir

Pengawas

Ir. Muhammad Sholeh

Manajemen

Kepala Divisi Trading: Robbie Sartana

Manajemen

Kepala Divisi Community Dev: Faqih Asyikin

SEJARAH

Video Profil Kopi Mitra Malabar

2009 - Titik Tolak

Hikmah dari setiap peristiwa. Tahun 2009 terjadi bencana gempa di Pangalengan, Bandung Selatan.

Haji Jayagama bersama dengan komunitasnya, melakukan kegiatan recovery pasca gempa disana.

Dipertemukan dengan tokoh-tokoh masyarakat disana yang memiliki komitmen dan semangat yang luar biasa untuk membangun kembali desa-nya yang terdampak bencana gempa bumi.

2010-2011 - Mengangkat Potensi Ekonomi Desa

Salah satu kegiatan recovery pasca gempa dibidang ekonomi adalah mengembangkan potensi perkebunan rakyat di daerah Pangalengan yang telah terkenal sebagai salah satu sentra produksi kopi Jawa Barat.

2 tahun membangun Koperasi Mitra Malabar, banyak hal yang diluar dugaan, disamping peluang ekonominya yang tinggi, disisi lain banyak ‘ilmu’ yang tidak diketahui oleh petani dan masyarakat awam tentang kopi dan seluk beluknya.

2012 - Establishing the Cooperatives

Selama 2 tahun mengangkat potensi ekonomi desa, para pendiri Koperasi Mitra Malabar sepakat mendirikan koperasi yang akan mewadahi petani dan pengolah kopi di Bandung.

Hasil konsultasi dengan para tokoh perkoperasian Jawa Barat dan Dinas Koperasi Provinsi, disarankan untuk pendirian koperasi ini setingkat provinsi agar dapat menjadi wadah bagi seluruh petani, prosesor dan penggiat kopi se-Jawa Barat.

2012-2013 - Lompatan Pertama

Keunggulan dan popularitas kopi Java Preanger didalam negeri sudah lama menjadi “cerita”, tapi tidak semua kopi yang dibudidayakan dan diolah sebagai kopi unggul dengan citarasa seperti jaman dulu.

Pemuliaan tanaman kopi inilah salah satu pondasi yang harus disiapkan oleh masyarakat perkopian Jawa Barat, dilakukan dengan swadaya untuk ‘menggelitik’ para stakeholders agar peduli terhadap pentingnya bibit unggul dalam budidaya kopi.

2013 - Melompat Bersama

sadar masalah perkopian di hulu, tengah dan hilir ini tidak sedikit dan kompleks. KMM menginisiasi terbentuknya Forum Clearing House Kopi Jawa Barat (CHK Jabar). Forum yang dimaksudkan untuk media berkumpulnya para stakeholders lintas profesi & tugas, mencakup dari hulu sampai hilir. Forum yang diharapkan mampu mengurai bersama benangkusut yang selama ini tidak ketemu ujung-pangkalnya. Forum yang diharapkan dapat memberikan informasi yang ‘clear’ dan sekaligus mendistribusikan informasi ini ke semua pihak, sehingga perdagangan kopi jawa barat akan tertata dengan baik.

2013 - Lompatan Ketiga yang Beresiko Tinggi

forum clearing house kopi jawa barat dilantik oleh gubernur Jawa Barat, pada tahun yang sama kopi rakyat jawa barat memperoleh order dari maroko. Skema perdagangan yang dibangun dengan pola fair-trade (perdagangan yang berkeadilan). Konsep kemitraan yang dibangun adalah harga dari petani jawa barat dibuka apa adanya dan harga jual di maroko akan dibuka apa adanya oleh buyer/importir. Beresiko karena barang dilepas tanpa LC, dibayar setelah laku di maroko.

2014-2015 - Lompatan Keempat

Budaya kopi nusantara tidak dapat dipisahkan dengan ke-arifan lokal yang sangat beragam di bumi Indonesia. KMM bersama dengan Kementerian Koperasi dan UKM menginisiasi forum pemasaran bersama kopi petani Indonesia, pertemuan awal di akhir 2013 dilakukan di Bandung. Tahun 2014 bersama dengan kementerian koperasi dan UKM melalui program promosi produk unggulan daerah, dengan membuka Rumah Kopi Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

2016-2017 - Lompatan Kelima

Sejak awal tahun 2016, Pengurus Koperasi Mitra Malabar Jawa Barat melakukan diskusi dengan petani dan tokoh masyarakat di kecamatan parigi, kabupaten pangandaran, jawa barat yang memiliki potensi komoditas kelapa tapi belum optimal dalam pengembangan peluangnya, maka pada Nopember tahun 2016 KMM menginisiasi pembentukan Koperasi Produsen Mitra Kelapa (KPMK) Kabupaten Pangandaran. Setahun kemudian di Oktober 2017, KMM mendirikan pabrik pengolahan kelapa terpadu yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah kelapa.

2017-2018 - Lompatan Keenam

Optimalisasi lahan sekitar kebun kelapa, untuk budidaya sereh wangi. Sebagai alternatif sumber pendapatan petani saat tidak panen kelapa. Untuk meningkatkan nilai tambah daun sereh wangi setelah disuling menjad minyak atsiri (essential oil), diolah menjadi produk-produk turunan sereh wangi, seperti: sabun dan karbol.

2019-2020 - Lompatan Ketujuh

Program Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan RI sudah dikampanyekan sejak 4 tahun terakhir, dalam rangka mendukung program PS ini KMM memberikan pendampingan ke beberapa desa dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) di provinsi jawa barat. Salah satunya di desa loa dan drawati, kecamatan paseh, kabupaten bandung, yang memiliki potensi agribisnis kopi dan hasil hutan lainnya. Pendampingan dimulai sejak pengajuan Perhutanan Sosial, kemudian penguatan kelembagaan petani dengan mendirikan koperasi produsen, sampai ke tahapan pendampingan pengolahan kopi (pasca panen).